Tiba-tiba sakit perut, nih. Lihat nanti, ya, bisa ikut tidaknya.
Setelah Salat Subuh, saya mengirim pesan ke obrolan grup sebagai antisipasi jikalau saya tidak jadi ikut menghabiskan waktu di kawasan kaki Guntur. Saya dan teman-teman sebelumnya sudah sepakat untuk bertemu di sana pada Minggu pagi.
Seiring mentari yang mulai berseri, saya meyakinkan diri bahwa semua akan baik-baik saja—sakit perut itu tidak akan muncul lagi. Pasti butuh obrolan alot lagi untuk sekadar sebuah janji temu berikutnya. Karenanya, saya kembali mengabarkan bahwa saya jadi ikut.
Pada pertemuan kali ini, saya dan para sahabat membawa serta keluarga. Kami ingin mengunjungi tempat bernuansa alam, tetapi tidak ingin bersusah payah menjangkaunya. Untungnya, Garut memang dipagari pegunungan, sehingga tidak susah mendatangi wisata alam dataran tinggi.
Salah seorang di antara kami menginformasikan sebuah lokasi dengan view pegunungan, tetapi tidak perlu mendaki untuk mencapainya. Kami semua sepakat ke sana, mengingat anak-anak juga ikut. Jadi, medannya dipilih yang gampang-gampang saja.
Niatnya, kami berangkat sepagi mungkin. Namun, karena satu dan lain hal—yang membuat ibu kehilangan kesabaran di pagi hari—kami baru meninggalkan rumah pada pukul 08.30. Di hari yang cerah itu, anak-anak bersemangat saat mengetahui akan jalan-jalan ke kawasan kaki Gunung Guntur.
Menemukan Kawasan di Kaki Gunung Guntur
Dikelilingi pegunungan, Garut tentu punya banyak pilihan bagi siapa saja yang ingin menikmati alam dari ketinggian. Belakangan, Gunung Papandayan—salah satunya—menjadi destinasi para pendaki pemula. Sementara itu, sejauh ini saya masih berstatus sebagai penonton keseruan pengalaman orang lain.
Sebagai pemanasan, saya sudah beberapa kali mendaki ke Bukit Tegal Malaka yang terletak di kawasan Gunung Guntur. Tidak cukup sekali, saya sampai mencoba beberapa jalur yang berbeda untuk sampai ke sana. Bahkan, saya ke Tegal Malaka pada malam hari untuk mendapatkan pengalaman menatap citylight Garut dari ketinggian.
Saya bukannya tidak tertarik untuk menjajal pegunungan di garut. Namun, untuk saat ini belum ada waktu dan kesempatan yang tepat. Menaklukkan gunung-gunung itu masih menjadi wacana yang semoga terealisasi di kemudian hari.
Di tengah situasi bak pungguk merindukan rembulan tersebut, saya lebih dari berbahagia saat para sahabat mengajak ke kawasan kaki Gunung Guntur. Sakit perut yang melilit pun tak menjadi penghalang—saking inginnya menikmati pemandangan batuan vulkanik tanpa harus mendaki.
Pada hari itu suami sedang berada di luar kota, beruntung seorang kawan berbaik hati menjemput saya dan anak-anak. Patokan tempat tujuan kami adalah Hotel Harmoni, tetapi pada saat itu sedang berlangsung lari maraton, sehingga kami harus memutar ke arah jalan raya Pasawahan.
Saat Tugu PLP terlihat, itu merupakan pertanda kami akan segera sampai. Kami masuk melalui gerbang bertuliskan Eduwisata Perlebahan Gunung guntur. Dari sana, hanya masuk sedikit, lalu belok kiri. Ini bukan pendakian, tetapi pemandangan di depan mata cukup mengobati hasrat muncak yang belum tercapai.
Merasakan Suasana Gunung Tanpa Mengejar Puncak
Gunung Guntur merupakan gunung aktif. Karena itulah, di sekitar gunung tersebut terdapat wisata pemandian air panas alami Cipanas. Kawasan itu menjadi destinasi wisata yang menyediakan banyak pilihan kolam pemandian dan hotel yang mudah diakses.
Kelebihan lain yang dimiliki Gunung Guntur adalah lokasinya yang tidak jauh dari pusat kota, tepatnya di Kecamatan Tarogong Kaler. Dengan begitu, kita mudah saja untuk sekadar menyambangi kaki gunung dengan berjalan santai. Tidak harus terlalu mengeluarkan banyak tenaga, tetapi sudah bisa mendapatkan pemandangan dan suasana gunung.
Begitu turun dari mobil, saya sudah bisa merasakan embusan angin khas pegunungan. Semilir menyejukkan menjadi penetral dari sinar matahari yang mulai terasa terik padahal hari belum terlalu siang. Meski tidak mendaki, kami semua memilih mengenakan sepatu agar lebih nyaman berjalan di atas kerikil dan bebatuan.
Dari jalan yang menuju Eduwisata Perlebahan, kami belok kiri. Tidak berapa lama, kami sudah sampai di sebuah kawasan dengan batuan vulkanik yang menjulang. Di batu tertinggi, tertancap sebuah tiang kayu dengan bendera merah putih.
Saya dan rombongan menuju sebuah gazebo. Di sana sudah menunggu dua orang kawan beserta keluarganya. Seperti pertemuan-pertemuan yang telah lalu, kami langsung larut dalam obrolan seru yang tiada hentinya.
Kami bisa memanfaatkan gazebo secara gratis, dengan ketentuan membeli jajanan di sebuah warung yang ada di sana. Dengan segera, saya membeli gorengan dan lontong untuk sarapan. Sementara anak-anak lebih tertarik pada makanan ringan. Di sana juga tersedia kelapa muda, kopi, dan mi rebus.
Saat sedang asyik ngobrol, anak-anak ingin menjajal batuan vulkanik tertinggi. Ini seperti miniatur puncak sebuah gunung. Dengan ditemani salah seorang orang dewasa di antara kami, mereka berjalan menuju puncak versi mereka sendiri.
Di tengah obrolan, saya sesekali mengabadikan potret memukau di depan mata. Bebatuan yang menjadi identitas sebuah gunung aktif berdiri megah menantang zaman. Di titik ini saya bersyukur karena bisa menikmati sisi gunung dengan cara yang lebih santai.
Rencana Mendaki ke Tempat yang Lebih tinggi
Meski demikian, bukan berarti rencana kami 100% gagal. Ada dua wacana besar yang berhasil menjadi nyata, yaitu liburan bersama ke Trans Studio Bandung Mall sekaligus staycation di Ibis Hotel. Selain itu, kami sempat juga ke Pangandaran bersama meski terjadi sedikit insiden.
Akan tetapi, baik wacana itu terwujud atau tidak, kami tidak terlalu mempermasalahkannya. Terwujud alhamdulillah, tidak pun tidak apa-apa, masih banyak wacana lain yang bisa diobrolkan.
Kegagalan itu tidak lantas menghentikan kami untuk tetap mempunyai banyak wacana. Di dalam gazebo di kaki Gunung Guntur, kami lagi-lagi menambah daftar panjang tempat yang ingin dikunjungi bersama. Kali ini, kami membuka kemungkinan jalan-jalan ke Eduwisata Perlebahan.
Dari tempat kami berada saat itu, ke Eduwisata hanya perlu melanjutkan terus mendaki. Tinggal mengikuti jalan lurus dari gapura yang sama. Setelah sampai sana, kita bisa mendaki lebih tinggi jika ingin sampai di kawasan air terjun.
Perihal rencana tersebut kapan akan terwujud, kami tidak terlalu mengambil pusing. Kala itu, kami tetap asyik menghabiskan waktu dan makanan yang tersaji. Saat matahari kian terik, kami memutuskan untuk segera meninggalkan kawasan kaki Gunung Guntur.
Menutup Perjalanan dengan Makan Siang di Lumbung Padi
Saat beranjak dari kawasan kaki Gunung Guntur, sebenarnya saya belum terlalu lapar. Cukup banyak gorengan dan leupeut yang saya habiskan, belum lagi roti dan camilan lain. Namun, saat teman-teman mengajak makan siang bersama, saya tak kuasa menolak. Terlebih, si cikal merengek ingin ikut.
Awalnya kami berencana mendatangi sebuah rumah makan baru di daerah pusat kota yang terkenal dengan sambalnya. Di sana menyediakan playground cukup luas, sehingga menarik minat anak-anak. Namun, ketika sampai di sana, antrean pengunjung tampak mengular. Saat petugas security memberitahukan bahwa waiting list-nya kurang lebih akan memakan waktu satu jam, kami memutuskan mencari tempat makan lain.
Di saat bingung seperti itu dan hanya ada sedikit waktu untuk mengambil keputusan, Lumbung Padi hampir selalu menjadi pilihan yang aman. Di antara banyaknya restoran khas Sunda di Garut, tempat itulah yang paling sering saya datangi.
Dari pusat kota, kami menuju perempatan Maktal, lalu mengambil jalan ke arah Bayongbong. Tidak butuh waktu lama, kami pun sudah sampai di Lumbung Padi. Sesuai prediksi, restoran itu pun ramai di hari Minggu. Beruntung masih ada tempat kosong untuk rombongan kami.
Sebagian besar dari kami memesan nasi paket timbel ayam. Dengan harga Rp35.000, kami sudah mendapatkan nasi, ayam, mendoan, tahu, lalapan, dan sambal. Selain itu, saya juga memesan jus stroberi seharga Rp21.000. Kalian tentu sepakat bahwa jumlah segitu cukup terjangkau. Terlebih, Lumbung Padi tidak hanya menawarkan pengalaman kulineran khas Sunda.
Sambil menunggu hidangan siap, kami bergiliran Salat Zuhur di musala. Di depan tempat ibadah tersebut ada kolam ikan terapi, tetapi saya tidak mencobanya—geli, ah. Sementara itu, anak-anak gembira karena bisa menjajal outdoor playground dan mengunjungi mini zoo.
Ketika kami kembali ke tempat duduk, makanan sudah tersaji. Saya hanya minum jus karena belum terlalu lapar, sedangkan anak-anak makan nasi seporsi berdua. Setelah makanan tandas dan galeri ponsel penuh, kami pun pulang ke rumah masing-masing.
Penutup
Seseorang pernah berkata bahwa ia tidak memiliki tempat favorit. Yang ia miliki hanya orang favorit. Karenanya, selama bepergian kemana pun, ia tetap bisa menikmatinya, asalkan bersama orang-orang tersayang. Sedikit banyak, saya pun merasa demikian.
Seperti halnya pengalaman saya beberapa lalu saat mengunjungi tempat yang tidak jauh dari rumah. Sekilas tampak sederhana dan mudah, tetapi kenangan yang tersimpan terasa mewah.
Bersama orang-orang favorit, perjalanan singkat itu terasa istimewa. Terlebih, kawasan kaki Gunung Guntur menawarkan keindahan khas dataran tinggi tanpa perlu mendaki. Kalian sudah pernah ke sana belum, Baraya?





Posting Komentar
Posting Komentar