halogarutweb.blogspot.com

Menemukan Keindahan di Kaki Gunung Guntur Tanpa Harus Mendaki

Posting Komentar
Menikmati Keindahan di Kaki Gunung Guntur Tanpa Harus Mendaki

Tiba-tiba sakit perut, nih. Lihat nanti, ya, bisa ikut tidaknya.

Setelah Salat Subuh, saya mengirim pesan ke obrolan grup sebagai antisipasi jika saya tidak jadi ikut menghabiskan waktu di kawasan kaki Guntur. Saya dan teman-teman sebelumnya sudah sepakat untuk bertemu di sana pada Minggu pagi.

Seiring mentari yang mulai berseri, saya meyakinkan diri bahwa semua akan baik-baik saja—sakit perut itu tidak akan muncul lagi. Pasti butuh obrolan alot lagi untuk sekadar sebuah janji temu berikutnya. Karenanya, saya kembali mengabarkan bahwa saya jadi ikut.

Pada pertemuan kali ini, saya dan para sahabat membawa serta keluarga. Kami ingin mengunjungi tempat bernuansa alam, tetapi tidak ingin bersusah payah menjangkaunya. Untungnya, Garut memang dipagari pegunungan, sehingga tidak susah mendatangi wisata alam dataran tinggi.

Salah seorang di antara kami menginformasikan sebuah lokasi dengan view pegunungan, tetapi tidak perlu mendaki untuk mencapainya. Kami semua sepakat ke sana, mengingat anak-anak juga ikut. Jadi, medannya dipilih yang gampang-gampang saja.

Niatnya, kami berangkat sepagi mungkin. Namun, karena satu dan lain hal—yang membuat ibu kehilangan kesabaran di pagi hari—kami baru meninggalkan rumah pada pukul 08.30. Di hari yang cerah itu, anak-anak bersemangat saat mengetahui akan jalan-jalan ke kawasan kaki Gunung Guntur.

Menemukan Kawasan di Kaki Gunung Guntur

Gunung Guntur di daerah mana

Dikelilingi pegunungan, Garut tentu punya banyak pilihan bagi siapa saja yang ingin menikmati alam dari ketinggian. Belakangan, Gunung Papandayan—salah satunya—menjadi destinasi para pendaki pemula. Sementara itu, sejauh ini saya masih berstatus sebagai penonton keseruan pengalaman orang lain.

Sebagai pemanasan, saya sudah beberapa kali mendaki ke Bukit Tegal Malaka yang terletak di kawasan Gunung Guntur. Tidak cukup sekali, saya sampai mencoba beberapa jalur yang berbeda untuk sampai ke sana. Bahkan, saya ke Tegal Malaka pada malam hari untuk mendapatkan pengalaman menatap citylight Garut dari ketinggian.

Saya bukannya tidak tertarik untuk menjajal pegunungan di garut. Namun, untuk saat ini belum ada waktu dan kesempatan yang tepat. Menaklukkan gunung-gunung itu masih menjadi wacana yang semoga terealisasi di kemudian hari.

Di tengah situasi bak pungguk merindukan rembulan tersebut, saya lebih dari berbahagia saat para sahabat mengajak ke kawasan kaki Gunung Guntur. Sakit perut yang melilit pun tak menjadi penghalang—saking inginnya menikmati pemandangan batuan vulkanik tanpa harus mendaki.

Pada hari itu suami sedang berada di luar kota, beruntung seorang kawan berbaik hati menjemput saya dan anak-anak. Patokan tempat tujuan kami adalah Hotel Harmoni, tetapi pada saat itu sedang berlangsung lari maraton, sehingga kami harus memutar ke arah jalan raya Pasawahan.

Saat Tugu PLP terlihat, itu pertanda kami akan segera sampai. Kami masuk melalui gerbang bertuliskan Eduwisata Perlebahan Gunung guntur. Dari sana, hanya masuk sedikit, lalu belok kiri. Ini bukan pendakian, tetapi pemandangan di depan mata cukup mengobati hasrat muncak yang belum tercapai.

Merasakan Suasana Gunung Tanpa Mengejar Puncak

Wisata Gunung Guntur, Kecamatan Tarogong Kaler, Kabupaten Garut

Gunung Guntur merupakan gunung aktif. Karena itulah, di sekitar gunung tersebut terdapat wisata pemandian air panas alami Cipanas. Kawasan itu menjadi destinasi wisata yang menyediakan banyak pilihan kolam pemandian dan hotel yang mudah diakses.

Kelebihan lain yang dimiliki Gunung Guntur adalah lokasinya yang tidak jauh dari pusat kota, tepatnya di Kecamatan Tarogong Kaler. Dengan begitu, kita mudah saja untuk sekadar menyambangi kaki gunung dengan berjalan santai. Tidak harus terlalu mengeluarkan banyak tenaga, tetapi sudah bisa mendapatkan pemandangan dan suasana gunung.

Begitu turun dari mobil, saya sudah bisa merasakan embusan angin khas pegunungan. Semilir menyejukkan menjadi penetral dari sinar matahari yang mulai terasa terik padahal hari belum terlalu siang. Meski tidak mendaki, kami semua memilih mengenakan sepatu agar lebih nyaman berjalan di atas kerikil dan bebatuan.

Dari jalan yang menuju Eduwisata Perlebahan, kami belok kiri. Tidak berapa lama, kami sudah sampai di sebuah kawasan dengan batuan vulkanik yang menjulang. Di batu tertinggi, tertancap sebuah tiang kayu dengan bendera merah putih. 

Saya dan rombongan menuju sebuah gazebo. Di sana sudah menunggu dua orang kawan beserta keluarganya. Seperti pertemuan-pertemuan yang telah lalu, kami langsung larut dalam obrolan seru yang tiada hentinya.

Kami bisa memanfaatkan gazebo secara gratis, dengan ketentuan membeli jajanan di sebuah warung yang ada di sana. Dengan segera, saya membeli gorengan dan lontong untuk sarapan. Sementara anak-anak lebih tertarik pada makanan ringan. Di sana juga tersedia kelapa muda, kopi, dan mi rebus.

Saat sedang asyik ngobrol, anak-anak ingin menjajal batuan vulkanik tertinggi. Ini seperti miniatur puncak sebuah gunung. Dengan ditemani salah seorang orang dewasa di antara kami, mereka berjalan menuju puncak versi mereka sendiri.

Di tengah obrolan, saya sesekali mengabadikan potret memukau di depan mata. Bebatuan yang menjadi identitas sebuah gunung aktif berdiri megah menantang zaman. Di titik ini saya bersyukur karena bisa menikmati sisi gunung dengan cara yang lebih santai.

Related Posts

Posting Komentar

```html