![]() |
| captured by Zulfi Istiqomah |
Apa yang pertama kali muncul di benak kalian saat mendengar kata Pemda?
Bagi baraya Garut, Pemda tidak selalu merujuk pada kantor tempat kepala daerah bertugas. Dalam banyak percakapan, menyebut "Pemda" justru berarti kami hendak kulineran di Garut – karena di sanalah berjajar gerobak jajanan yang menggugah selera.
Area itu selalu hidup. Letaknya strategis, tidak jauh dari Simpang Lima. Lurus sedikit di Jalan Pembangunan berdiri kantor pemerintahan daerah, dan beberapa langkah ke depan – hingga perempatan yang mengarah ke Jalan Pahlawan arah kanan – deretan gerobak makanan terlihat memenuhi salah satu sisinya.
Gerobak-gerobak itu memanjang hingga pertigaan, bahkan tersambung ke Jalan Patriot. Beragam jajanan seperti bakso, seblak, lumpia basah, rujak, sop buah, hingga makanan tradisonal meramaikan spot kulineran baraya Garut ini.
Suasana makin riuh karena jalan ini juga menjadi akses menuju kampus Institut Pendidikan Indonesia (IPI), atau yang dulu kita kenal sebagai STKIP Garut. Meski begitu, pelanggan jajanan di sini bukan hanya pegawai Pemda dan mahasiswa IPI – hampir semua kalangan singgah di sini.
Di titik itu, Garut terasa benar-benar hidup. Menggeliat lewat roda perekonomian mikro, sekaligus memuaskan lidah para pemburu kuliner. Dua kebutuhan bertemu dalam satu transaksi yang saling menguntungkan.
Bagi baraya yang ingin kulineran di Garut dengan suasana jajanan gerobak, area Pemda selalu menjadi pilihan yang tak pernah terlupa. Kalau kalian, apa jajanan Pemda yang paling sering diburu?
Ragam Jajanan Favorit di Area Pemda Garut
Lokasi yang strategis menjadikan area Pemda sebagai destinasi kuliner yang selalu ramai. Daya tarik lainnya terletak pada keberagaman jajanan yang ditawarkan. Karena itu, baraya bisa menikmati berbagai pilihan makanan tanpa perlu berpindah tempat. Praktis, hemat waktu, sekaligus memanjakan selera.
Mulai dari makanan tradisional, jajanan manis dan asin, sajian berkuah dan pedas, hingga minuman kekinian mudah ditemukan di sini. Meski didominasi jajanan gerobakan di pinggir jalan, hal itu sama sekali tidak mengurangi antusiasme baraya untuk berwisata kuliner.
Bakso menjadi salah satu primadona di area ini. Penjualnya lebih dari satu, tetapi ada satu gerobak yang dikenal paling ramai. Tak sedikit baraya yang rela duduk menikmati semangkuk bakso di dekat saluran air kering – tenang saja, tidak ada bau yang mengganggu kenyamanan.
Selain bakso, jajan lain pun tak kalah menggoda: batagor, baso tahu, pangsit mercon, es teh, rujak jambu kristal, cilor, donat, corndog, telur gulung, aneka gorengan, kue basah, dan masih banyak yang lainnya. Dari sekian banyak pilihan itu, ada beberapa jajanan yang menjadi favorit saya.
Baso Ikan Bunda D'Faiz
Saking seringnya memperhatikan gesture seseorang, kita kerap mengikutinya tanpa sengaja. Orang lain yang melihat lalu menyimpulkan bahwa kita dan pasangan tampak serupa.
Bukan hanya bahasa tubuh, selera makanan pun ternyata bisa ikut menular. Awalnya saya kurang menyukai baso ikan, sebaliknya suami justru sangat menggemarinya. Mula-mula hanya icip-icip, lama kelamaan saya mulai terbiasa, lalu menyukainya.
Di area Pemda, ada satu gerobak baso ikan yang hampir selalu ramai. Sejak pertama mencicipinya, saya tahu kami akan sering kembali ke sana. Tersedia beberapa paket dan paket Rp10.000 rasanya pas di perut saya. Saat lapar, kita bisa menambahkan mi dan pilus, serta memilih versi berkuah atau tanpa kuah sesuai selera.
Tak hanya jajanannya yang enak, Bunda penjualnya pun dikenal supel dan ramah. Semua pelanggan disapa "sayang". Setiap pembeli diajak mengobrol akrab, meski baru pertama kali jajan di sana.
Gerobaknya berada sebelum pertigaan Pemda, tidak terlalu jauh dari kedai Tekun. Kalau kalian, sudah pernah mencicipi Baso Ikan Bunda D'Faiz belum, Baraya?
Sop Duren Durian Runtuh
Tak jauh berbeda dengan ketidaksukaan pada baso ikan, pada mulanya saya pun tidak menyukai durian. Hidup bersama seseorang yang nyaris tak memiliki pantangan makanan – selama halal dan baik – pelan-pelan membuat pilihan makanan yang masuk ke perut saya menjadi lebih beragam.
Jika diurutkan, durian bahkan pernah menempati posisi teratas sebagai makanan yang paling saya hindari. Baunya menyengat, penampilannya pun tak menggugah selera karena tampak benyek. Saya tak pernah menyangka akan sampai pada titik kesadaran bahwa durian ternyata layak dikonsumsi.
Tentu saya tidak serta-merta menjadi penggemar durian. Cukup mencicipi sedikit saja. Hingga kini, minuman rasa durian masih belum bisa saya pahami letak enaknya. Namun, sesendok daging buah durian dalam seporsi sop durian ternyata mampu menggoyang lidah saya.
Sop durian favorit saya bisa ditemukan di area Pemda. Letak gerobaknya cukup dekat dengan Baso Ikan Bunda D'Faiz – tinggal maju sedikit ke arah pertigaan, lalu mengambil arah menuju Jalan Otista.
Dengan harga Rp11.000 per porsi, sop durian ini pas untuk cuci mulut. Daging durian yang lembut berpadu dengan ketan hitam bertekstur, menciptakan sensasi yang nyaman di mulut. Belum lagi topping lainnya yang menyatu, meninggalkan jejak rasa yang sulit dilupakan.
Kulineran di Garut, Tentang Rasa dan Kebersamaan
Setiap suami sedang berada di Garut, bermacam rencana singgah di kepala. Ada yang terealisasi, seperti jalan kaki ke Tegal Malaka, ada pula yang tetap tersimpan rapi sebagai wacana.
Di antara banyaknya wish list yang tak jadi nyata, berjalan santai di sekitar rumah kerap menjadi obat penenang. Hemat waktu, hemat biaya. Jajan di area Pemda pun sering hadir sebagai penyelamat ketika ekspektasi tak selalu seindah realita.
Kulineran di Garut, khususnya di area Pemda, bukan semata soal transaksi jual beli. Di sana, rasa bertemu dengan cerita, dan makanan menjadi medium untuk merekam kisah-kisah kecil agar tak lekas tenggelam dalam lautan ingatan. Dari baso ikan hingga sop durian, selera bisa berubah seiring waktu—dan mungkin, seiring dengan siapa kita berbagi meja.
Bagi baraya Garut, area Pemda bukan hanya tempat wisata kuliner, melainkan ruang singgah yang menyimpan kenangan sederhana, tetapi bernyawa. Mendung-mendung gini, kalian tetap kulineran di Garut, kan?


Posting Komentar
Posting Komentar