Bukit Tegal Malaka Garut: Jalan Kaki, Mendaki, dan Menikmati Sunyi.
Kalimat di atas merupakan judul artikel tentang pengalaman pertama saya ke Tegal Malaka. Saya dan suami berjalan kaki dan mendapati kesunyian membungkus bukit tersebut pada siang hari. Namun, di pengalaman ketiga, cafe Tegal Malaka Garut seolah-olah mewujud menjadi bentuk lain yang sama sekali berbeda.
Di awal liburan kenaikan kelas, saya dan suami kembali ke sana dengan mengajak si cikal. Pengalaman kedua tersebut tidak jauh berbeda dengan pengalaman pertama. Masih berjalan kaki, hanya saja kami mengambil durasi dan rute yang lain, juga waktu yang lebih pagi.
Menjelang liburan usai, kami menutupnya dengan bertandang lagi ke bukit yang sempat viral tersebut. Namun, kali ini kami—saya, suami, si cikal, si bungsu, ibu, dan adik bungsu—memilih malam sebagai waktu berkunjung. Kami berangkat selepas Salat Magrib dan berniat makan malam di salah satu Cafe Tegal Malaka Garut.
Suasana Tegal Malaka Berubah Saat Malam Tiba
Di pagi dan siang hari, saya sempat mereka-reka wajah Tegal Malaka akan seperti apa di malam hari. Terlebih, di sana ada tanah lapang yang biasa dijadikan camping ground. Saya membayangkan, suasana tidak akan terlalu menakutkan meski sunyi tetap menyelimuti.
Namun, setelah kurang lebih 15 menit menghabiskan waktu di jalan dengan berkendara motor, bayangan di benak saya hampir berbeda 180 derajat dengan apa yang tampak di depan mata. Saat matahari pulang ke peraduan, ternyata Bukit Tegal Malaka justru berhias dan larut dalam keramaian.
Deretan tempat makan yang pada siang hari tampak biasa saja, di malam hari bercahaya memamerkan segenap pesona. Lampu warna-warni dan musik yang mengalun membuat mata saya agak pangling dengan kawasan yang telah memberikan kesan sunyi sebelumnya.
Camping ground terletak tidak jauh dari deretan tempat makan. Situasi yang ramai seperti ini bisa menjadikan Bukit Tegal Malaka sebagai alternatif untuk camping yang tidak terlalu berat. Kalau lapar pas lagi di tenda tinggal melipir ke salah satu cafe Tegal Malaka Garut ngga, sih, Baraya? Yang sudah punya pengalaman camping di sana, sharing di sini, yuk!
Namun, setelah kurang lebih 15 menit menghabiskan waktu di jalan dengan berkendara motor, bayangan di benak saya hampir berbeda 180 derajat dengan apa yang tampak di depan mata. Saat matahari pulang ke peraduan, ternyata Bukit Tegal Malaka justru berhias dan larut dalam keramaian.
Deretan tempat makan yang pada siang hari tampak biasa saja, di malam hari bercahaya memamerkan segenap pesona. Lampu warna-warni dan musik yang mengalun membuat mata saya agak pangling dengan kawasan yang telah memberikan kesan sunyi sebelumnya.
Camping ground terletak tidak jauh dari deretan tempat makan. Situasi yang ramai seperti ini bisa menjadikan Bukit Tegal Malaka sebagai alternatif untuk camping yang tidak terlalu berat. Kalau lapar pas lagi di tenda tinggal melipir ke salah satu cafe Tegal Malaka Garut ngga, sih, Baraya? Yang sudah punya pengalaman camping di sana, sharing di sini, yuk!
Menikmati City Light dari Ketinggian
Akhir-akhir ini, Garut lebih dingin dari biasanya. Pada pagi hari, suhu bisa mencapai 13 derajat. Bahkan, kabarnya di daerah Gunung Papandayan sampai ada embun es. Hal itu sempat membuat kami ragu untuk keluar malam, terlebih mengunjungi daerah perbukitan.
Akan tetapi, waktu liburan yang segera habis menambah motivasi. Akhirnya, kami berangkat dengan berbalut jaket dan waspada pada udara yang berpotensi bisa membuat menggigil. Namun, entah karena excited atau apa, sesampainya di sana kami merasakan udara yang justru bersahabat.
Setelah membayar parkir Rp5.000 per motor, kami sempat berhenti di dekat plang bertuliskan Bukit Tegal Malaka. Suami bergerak terlebih dahulu untuk memilih cafe mana yang akan dijadikan tempat untuk menikmati pemandangan malam yang dipenuhi cahaya kota.
Suami kembali lalu mengajak kami menuju kafe paling ujung sebelah kanan. Menurutnya, posisi kafe itu paling strategis. Sisi kanan-kiri jalan dipenuhi tempat makan. Sepintas tempat yang di sebelah kanan tampak memiliki posisi lebih bagus karena city light berada di sebelah kanan.
Akan tetapi, waktu liburan yang segera habis menambah motivasi. Akhirnya, kami berangkat dengan berbalut jaket dan waspada pada udara yang berpotensi bisa membuat menggigil. Namun, entah karena excited atau apa, sesampainya di sana kami merasakan udara yang justru bersahabat.
Setelah membayar parkir Rp5.000 per motor, kami sempat berhenti di dekat plang bertuliskan Bukit Tegal Malaka. Suami bergerak terlebih dahulu untuk memilih cafe mana yang akan dijadikan tempat untuk menikmati pemandangan malam yang dipenuhi cahaya kota.
Suami kembali lalu mengajak kami menuju kafe paling ujung sebelah kanan. Menurutnya, posisi kafe itu paling strategis. Sisi kanan-kiri jalan dipenuhi tempat makan. Sepintas tempat yang di sebelah kanan tampak memiliki posisi lebih bagus karena city light berada di sebelah kanan.
Saat kami memasuki kafe, musik langsung dinyalakan—mungkin kami pengunjung pertama yang datang selepas magrib. Saya berjalan menuju meja kasir untuk meminjam daftar menu, kemudian bergegas mencari tempat terbaik di sana.
Pemandangan lampu kota di depan mata sungguh menyihir. Untuk sesaat saya lupa pada daftar menu dan lebih memilih untuk tidak berkedip. Sayang rasanya untuk melewatkan pemandangan seindah ini.
Garut di bawah sana bermandikan cahaya. Ribuan titik-titik kecil berhamburan memenuhi langit hitam. Terselip rasa tak percaya kala pandangan menyapu panorama—karena keelokan yang memikat ini ternyata dapat dinikmati tanpa harus menempuh perjalanan jauh.
Posting Komentar
Posting Komentar