halogarutweb.blogspot.com

Cafe Tegal Malaka Garut: Menikmati City Light dari Ketinggian

9 komentar

 

Cafe Tegal Malaka Garut: Menikmati City Light dari Ketinggian
Bukit Tegal Malaka Garut: Jalan Kaki, Mendaki, dan Menikmati Sunyi.
Kalimat di atas merupakan judul artikel tentang pengalaman pertama saya ke Tegal Malaka. Saya dan suami berjalan kaki dan mendapati kesunyian membungkus bukit tersebut pada siang hari. Namun, di pengalaman ketiga, cafe Tegal Malaka Garut seolah-olah mewujud menjadi bentuk lain yang sama sekali berbeda.

Di awal liburan kenaikan kelas, saya dan suami kembali ke sana dengan mengajak si cikal. Pengalaman kedua tersebut tidak jauh berbeda dengan pengalaman pertama. Masih berjalan kaki, hanya saja kami mengambil durasi dan rute yang lain, juga waktu yang lebih pagi.

Menjelang liburan usai, kami menutupnya dengan bertandang lagi ke bukit yang sempat viral tersebut. Namun, kali ini kami—saya, suami, si cikal, si bungsu, ibu, dan adik bungsu—memilih malam sebagai waktu berkunjung. Kami berangkat selepas Salat Magrib dan berniat makan malam di salah satu Cafe Tegal Malaka Garut.

Suasana Tegal Malaka Berubah Saat Malam Tiba

Suasana Tegal Malaka berubah saat malam tiba

Di pagi dan siang hari, saya sempat mereka-reka wajah Tegal Malaka akan seperti apa di malam hari. Terlebih, di sana ada tanah lapang yang biasa dijadikan camping ground. Saya membayangkan, suasana tidak akan terlalu menakutkan meski sunyi tetap menyelimuti.

Namun, setelah kurang lebih 15 menit menghabiskan waktu di jalan dengan berkendara motor, bayangan di benak saya hampir berbeda 180 derajat dengan apa yang tampak di depan mata. Saat matahari pulang ke peraduan, ternyata Bukit Tegal Malaka justru berhias dan larut dalam keramaian.

Deretan tempat makan yang pada siang hari tampak biasa saja, di malam hari bercahaya memamerkan segenap pesona. Lampu warna-warni dan musik yang mengalun membuat mata saya agak pangling dengan kawasan yang telah memberikan kesan sunyi sebelumnya.

Camping ground terletak tidak jauh dari deretan tempat makan tersebut. Situasi yang ramai seperti ini bisa menjadikan Bukit Tegal Malaka sebagai alternatif untuk camping yang tidak terlalu berat. Kalau lapar ketika sedang berada di tenda tinggal melipir ke salah satu cafe Tegal Malaka Garut ngga, sih, Baraya? Yang sudah punya pengalaman camping di sana, sharing di sini, yuk!

Menikmati City Light Garut dari Ketinggian

Menikmati city light Garut dari Ketinggian
Akhir-akhir ini, Garut lebih dingin dari biasanya. Pada pagi hari, suhu bisa mencapai 13 derajat. Bahkan, kabarnya di daerah Gunung Papandayan sampai ada embun es. Hal itu sempat membuat kami ragu untuk keluar malam, terlebih mengunjungi daerah perbukitan.

Akan tetapi, waktu liburan yang segera habis menambah motivasi. Akhirnya, kami berangkat dengan berbalut jaket dan waspada pada udara yang berpotensi bisa membuat menggigil. Namun, entah karena excited atau apa, sesampainya di sana kami merasakan udara yang justru bersahabat.

Setelah membayar parkir Rp5.000 per motor, kami sempat berhenti di dekat plang bertuliskan Bukit Tegal Malaka. Suami bergerak terlebih dahulu untuk memilih kafe mana yang akan dijadikan tempat untuk menikmati pemandangan malam yang dipenuhi cahaya kota.

Suami kembali lalu mengajak kami menuju kafe paling ujung sebelah kanan. Menurutnya, posisi kafe itu paling strategis. Sisi kanan-kiri jalan dipenuhi tempat makan. Sepintas tempat yang di sebelah kanan tampak memiliki posisi lebih bagus karena city light berada di sebelah kanan.

Saat kami memasuki kafe, musik langsung dinyalakan—mungkin kami pengunjung pertama yang datang selepas magrib. Saya berjalan menuju meja kasir untuk meminjam daftar menu, kemudian bergegas mencari tempat terbaik di sana.

Pemandangan lampu kota di depan mata sungguh menyihir. Untuk sesaat saya lupa pada daftar menu dan lebih memilih untuk tidak berkedip. Sayang rasanya untuk melewatkan pemandangan seindah ini.

Garut di bawah sana bermandikan cahaya. Ribuan titik-titik kecil berhamburan memenuhi langit hitam. Terselip rasa tak percaya kala pandangan menyapu panorama—karena keelokan yang memikat ini ternyata dapat dinikmati tanpa harus menempuh perjalanan jauh.

Bersantap dengan Latar Gemerlap Lampu Kota

Di Sudut Malak—salah satu kafe Tegal Malaka Garut

Meski berniat untuk bersantap di Tegal Malaka, saya tetap menyuapi anak-anak sebelum berangkat—khawatir mereka masuk angin. Kami memilih rute berbeda dengan sebelumnya, tidak lagi melalui kawasan pemandian umum Cipanas.

Dari Jalan Terusan Pembangunan, kami menuju Simpang Lima dan mengambil arah ke Patriot. Dari sana kami ke Hampor yang berada di Jalan Raya Samarang. Setelah beberapa saat, kami berbelok ke jalan baru—Jalan Ibrahim Aji—tempat yang selalu ramai di minggu pagi dengan pasar tumpahnya.

Tak berapa lama kami belok kiri ke Jalan Rancabango. Sepanjang jalan, Garut terasa hidup karena banyak gerobak makanan yang turut melajukan roda perekonomian. Begitu Alfamart terlihat, kami belok kanan. Di sini sunyi jalan menuju perbukitan mulai terasa. Namun, justru di bukitnyalah keramaian itu menanti.

Setelah membayar tiket masuk, sebuah kafe dengan bangunan permanen terlihat. Tampilannya sangat mencolok dibanding bangunan lain. Namun, kami melewatinya karena ingin kafe yang terletak di dataran lebih tinggi.

Setelahnya, ada pula kafe yang tampak meriah dengan live music. Dekorasinya pun modern dan menu kulinernya kekinian—saya mengetahuinya dari media sosial. Namun, kali itu kami lebih memilih kafe di ujung yang bernama Di Sudut Malaka. Mungkin lain kali, kami berkesempatan untuk mencoba tempat makan lain.

Pada siang hari saya menyebut deretan tempat makan di sana sebagai warung. Namun, mendatangi Tegal Malaka pada malam hari membuat cara pandang saya seketika berubah. Tempat makan itu tiba-tiba tampak sebagai kafe.

Kami datang berenam—empat dewasa dan dua anak—dengan dua motor. Setelah beberapa saat larut dalam keindahan cahaya kota yang terhampar di depan mata, kami mengalihkan perhatian pada daftar menu. Saat itu belum ada pengunjung lain, jadi tidak perlu waktu lama hingga makanan tersaji di meja. 

Kami memesan dua porsi nasi putih+sate ayam, tiga porsi rice bowl chicken teriyaki, seporsi mie goreng, seporsi dimsum, dua hot chocolate, satu iced chocolate, segelas minuman matcha, segelas kopi, serta satu bungkus snack. Untuk semuanya, kami menghabiskan Rp202.000. menurut kalian worth it tidak, Baraya?

Makanannya memang sederhana, tetapi pemandangan di depan mata membuat pengalaman saat itu menjadi berkali-kali lipat jauh lebih berharga. Bersantap dengan latar gemerlap lampu kota tidaklah harus dilakukan di tempat jauh. Malam itu, saya justru menemukannya di sudut Garut yang letaknya tak begitu jauh dari rumah.

Tips Berkunjung pada Malam HariTips mengunjungi Bukit Tegal Malaka pada malam hari

Sekhawatir apa pun dengan udara dingin, itu lebih baik daripada datang ke sana saat hujan. Namanya perbukitan tentu menanjak. Jalanan seperti ini lebih berisiko jika ditempuh di musim hujan.

Jadi pastikan cuaca sedang cerah saat memutuskan mendatangi cafe Tegal Malaka Garut. Terlebih, kebanyakan tempat makan di sana memiliki konsep kafe terbuka yang ditujukan untuk menikmati pemandangan alam. Akan sangat berabe jika terjadi hujan. Kenakan pakaian tebal saat ke sana, ya.

Untuk urusan akses—meski jalanan menuju bukit bisa dilalui mobil—akan lebih nyaman kalau kita ke sana dengan mengendarai motor. Jalanan yang menanjak dan tidak terlalu lebar membuat motor tampak menjadi pilihan terbaik, apalagi untuk perjalanan malam.

Soal waktu berkunjung, saya sempat mempertimbangkan untuk ke bukit Tegal Malaka menjelang magrib. Namun, rencana itu batal mengingat Salat Magrib akan lebih nyaman di rumah. Bagi kalian yang ingin merasakan atmosfer transisi matahari terbenam ke pemandangan cahaya malam, bisa memilih ke sana pada petang hari.

Saat kami bersiap pulang, justru makin banyak pengunjung yang berdatangan. Suasananya pun kian semarak, terlebih pada malam Minggu. Meski demikian, sebaiknya jangan datang terlalu mepet karena sebagian besar kafe di kawasan Bukit Tegal Malaka tutup sekitar pukul 23.00 WIB. Dengan begitu, kalian masih memiliki waktu yang cukup untuk menikmati hidangan, suasana, dan pemandangan city light tanpa terburu-buru.

Penutup

Saya sudah tiga kali ke Bukit Tegal Malaka—pada pagi, siang, dan malam hari. Bukit ini bukanlah tempat yang bisa kita kenali hanya dalam satu kali kunjungan. Tak ada kata bosan, justru keinginan untuk kembali ke sana yang selalu muncul.

Datang pada pagi atau siang hari menghadirkan panorama yang menenangkan, sementara malam memperlihatkan wajah lain melalui gemerlap lampu kota dan suasana yang lebih hidup. Dua pesona yang berbeda, tetapi sama-sama meninggalkan kesan yang tidak mudah dilupakan.

Rasanya, tidak ada penutup liburan yang lebih pas selain mengakhiri perjalanan di tempat yang juga menjadi awal cerita di permulaan libur kenaikan kelas kemarin. Dari ilalang perbukitan yang bersemu merah muda  hingga kerlip cahaya malam, Tegal Malaka telah menggenapi perjalanan ini dengan dua suasana yang saling melengkapi. Ini ceritaku dari Kafe Tegal Malaka Garut, kalian kapan ke sana, Baraya?

Related Posts

9 komentar

  1. Kelihatannya memang seru jika dikunjungi di malam hari, ya, Kak. Selain suasananya yang mendukung suasana romantis, sepertinya bisa stress release juga di sini. KAlau membaca tulisan Kak Monica tentang Garut, jadi pengen ke sana deh.

    BalasHapus
  2. Wah seru nih bersantap sambil memandang city light. Pernah merasakannya di daerah Sentul, tapi kalau yang di Garut ini sepertinya lebuh tinggi. Paginya juga lebih dingin. Semoga suatu saat bisa berkesempatan ke sana

    BalasHapus
  3. Wah, sampai-sampai harus mengulang 3 kali buat kesana "cafe tegal malaka". Sangat memberikan gambaran, pasangan yang sedang menikmati perjalanan berdua, dengan naik motor.

    BalasHapus
  4. Wah senangnya bisa mengisi masa liburan dengan keluarga, diisi dengan makan malam bersama, ditemani cahaya lampu kota yang dilihat dari Tegal Malaka. Mantap.

    Harganya reasonable, apalagi untuk makan berenam. Worth it, Teh. Alhamdulillah didukung juga dengan cuaca yang cerah, ya. Kalau masalah dingin memang lagi masanya, Sukabumi pun sama, rata-rata suhu 13-15 derajat kalau malam sampai pagi.

    BalasHapus
  5. city skylight memang mempesona ya, memandang aneka lampu kota dari ketinggian sepertinya memuaskan mata untuk menikmatinya walaupun sesaat, pantas saja sekarang semakin banyak destinasi wisata malam hari yang menonjolkan hal ini

    deskripsi warung bisa berubah jadi kafe karena kemeriahan lampu juga kan mbak diiringi iringan musik yang melengkapi suasana

    BalasHapus
  6. Masya Allah sampe berulang Kali ke tempat yang sama, artinya tempat ini emang indah banget ya mbak. Boleh lah nih bagi warga Garut yang mau kesini. Baik siang, sore , maupun malam suasanya tetap apik. Keren nih jadi bucket list liburan di Garut.

    BalasHapus
  7. Berarti rekomendasi waktunya malam hari ya ini buat dikunjungi. Kebayang malam hari nongkrong disana sambil liat city lightnya garut

    BalasHapus
  8. Wah, bener-bener tempat pelarian yang pas dari keramaian! Momen penutup liburan kenaikan kelas yang manis banget. Foto dan cerita indahnya dapet banget vibes tenang-nya.

    BalasHapus
  9. Garut adalah kota yang belum pernah saya singgahi....duuuh kapan yaa ke Garut dan mampir ke cafe ini,,,,menikmati city light kota Garut dari ketinggian. Sambil ngopi2 cantiik duuuh nikmatnyaa

    BalasHapus

Posting Komentar

```html