Bismillah. Mama-mama, bagaimana kalau kita meet up-nya di Kebun Mawar Situhapa Garut?
Butuh waktu hampir tujuh bulan hingga wacana pertemuan kembali itu diangkat ke permukaan. Sebelumnya, kami—mantan wali murid salah satu TK di Garut—bertemu ketika menengok salah satu di antara kami yang baru melahirkan.
Saat itu, kami berencana untuk bertemu lagi bulan berikutnya. Hari berganti hari, tak terasa hingga si bayi berumur tujuh bulan, rencana itu baru dibicarakan lagi. Jarak waktu yang lama untuk sebuah rencana pertemuan kecil.
Akan tetapi, itu belum seberapa jika dibandingkan dengan rentang waktu sejak anak-anak kami lulus TK pada 2023. Sudah lebih dari tiga tahun. Jadi, tujuh bulan bukanlah waktu yang terlalu lama jika dibandingkan dengan rentang waktu sejak anak-anak lulus TK hingga teman kami mempunyai bayi.
Anak-anak kami sekarang sudah duduk di bangku kelas empat sekolah dasar. Meski beberapa di antaranya kembali bersekolah di sekolah yang sama, kegiatan di SD tidak terlalu melibatkan orang tua seperti ketika di TK. Alhasil, kami pun bertemu tidak sesering dulu.
Momen teman yang melahirkan menjadi pemantik bagi kami untuk mempererat tali silaturahmi. Meski butuh waktu tidak sebentar untuk mewujudkannya, akhirnya kami bisa kembali berkumpul berenam pada Kamis di akhir Juli kemarin.
Kebun Mawar Situhapa menjadi pilihan tempat bersua. Selain sebagai ajang temu kangen, momen itu juga kami manfaatkan untuk menyusuri keindahan pemandangan alam Garut.
Garut Selalu Punya Cara Membuat Rindu
Pukul 08.00 lebih, setelah anak-anak sekolah dan urusan di rumah selesai, kami berangkat. Seperti halnya ibu-ibu yang lain, kami memilih waktu bertemu sekalian mengantar anak. Kami hampir tidak pernah sengaja keluar saat libur sekolah.
Meski Garut sedang dingin-dinginnya, matahari tetap menjalankan tugas dengan baik. Karenanya, kami janjian sepagi mungkin. Terlebih, Kebun Mawar Situhapa yang terletak di kecamatan Samarang sudah buka mulai pukul 09.00.
Kami berlima berangkat bersama dari daerah Simpang Lima, sementara seorang kawan yang tinggal di wilayah Samarang menyusul belakangan. Dari titik keberangkatan hingga tujuan, kami membutuhkan waktu kurang lebih 45 menit dengan kecepatan sedang.
Obrolan hangat dan ringan selama perjalanan menjadi penawar rindu yang membuat jarak terasa tidak panjang. Tidak ada jeda kosong yang mengisi durasi perjalanan.
Lokasi Kebun Mawar yang terletak agak jauh dari pusat kota menjadikan suasananya terasa lebih asri. Garut memang dikenal dengan wisata alamnya yang selalu membuat rindu, sehingga menjadi pilihan banyak orang yang ingin sejenak menepi.
Ketika kami tiba, tempatnya sudah buka dan resepsionis menyambut dengan ramah. Saya sempat melayangkan pandang ke seluruh area depan. Di ruangan yang sama, mereka menyediakan berbagai suvenir dan oleh-oleh.
Setelah membayar tiket masuk sebesar Rp17.500 (weekdays), kami memutar menuju pintu masuk di samping area lobby. Sebuah pagar kayu bercat hijau seolah menjadi gerbang bagi kami untuk masuk lebih jauh dalam obrolan yang makin seru.
Sepagi itu, sudah ada cukup banyak pengunjung yang datang. Mungkin di antara mereka merupakan tamu yang juga menginap di area Kebun Mawar, pikir saya. Selain memiliki taman yang super luas, di sana memang terdapat hotel dengan nuansa alam.
Baru masuk beberapa langkah saja, entah sudah berapa gambar yang kami ambil. Tiap sudut terasa layak diabadikan. Apalagi kami berjalan sambil tidak berhenti berbincang—menikmati waktu dalam ritme yang lambat.
Pemandangan Indah yang Sayang Dilewatkan
Angin dingin yang berembus menjadi pertanda musim kemarau yang belum mau beranjak. Beberapa tanaman dan rumput terlihat agak kering, tetapi tidak mengurangi rasa takjub saya saat melihat sekeliling.
Nama tempat wisata yang kerap dijadikan lokasi pemotretan pre-wedding ini memang mengambil nama salah satu bunga. Namun, bukan berarti di sana hanya ada mawar. Sejak memasuki taman tersebut, jenis-jenis bunga lain langsung terlihat. Sayang, saya tidak tahu nama-namanya. Hanya warna-warni indahnya yang tetap menetap dalam ingatan.
Mungkin, kalau pengelola memberikan penanda, akan sangat membantu—sebuah papan berisi nama tanaman beserta sedikit penjelasannya. Meski kerja mata meningkat, itu jelas menambah pengetahuan.
Mata saya seperti tidak diberi jeda untuk mengambil tempo. Panorama di sekitar taman begitu memesona hingga saya nyaris lupa berkedip. Hamparan rumput, bunga, dan pohon tinggi seolah menciptakan suaka sesaat dari hiruk-pikuk kerepotan seorang ibu.
Sayup-sayup terdengar suara dan tawa rombongan lain, tetapi kami tidak terganggu. Kebun Mawar lebih dari cukup untuk dinikmati tanpa perlu berebut tempat dengan pengunjung yang tersebar di sudut-sudut taman.
Kami sempat mengelilingi sebuah bangku panjang untuk mengambil gambar bersama, sambil tak henti saling bercerita. Mata harus berbagi fokus. Bukan hanya menikmati pemandangan, tetapi juga terus menatap layar ponsel untuk mengabadikan momen dan membalas pesan dari satu kawan yang datang menyusul.
Beberapa detik kemudian, saya mulai kewalahan. Mata tiba-tiba terasa perih. Angin yang semula saya kira akan menjadi penawar sinar matahari yang terik, justru membuat mata terasa makin kurang nyaman.
Ketika Mata Mulai Tidak Nyaman
Sebelumnya, saya kira mata kering mudah terjadi ketika mata terlalu banyak terpapar debu, polusi, dan layar gawai. Ternyata, berada di tempat yang asri seperti kawasan pegunungan pun tidak serta-merta membuat mata terbebas dari masalah ini.
Angin yang cukup kencang dapat membuat air mata lebih cepat menguap dari permukaan mata. Akibatnya, mata bisa terasa SEpet, PErih, dan LElah. #MataSePeLeJanganSepelein, sebab rasa tidak nyaman tersebut bisa menganggu aktivitas jika dibiarkan.
Sebenarnya,
gejala mata kering tidak hanya itu. Namun, mata SePeLe merupakan gejala yang paling banyak dirasakan. Beberapa langkah sederhana dapat dilakukan untuk membantu mengurangi rasa tidak nyaman sekaligus menjaga kelembapan mata.
Salah satunya dengan menggunakan tetes mata pelumas atau air mata buatan yang sesuai. Jika membutuhkan penggunaan lebih sering, produk tanpa pengawet dapat menjadi pilihan. Untuk kondisi tertentu, salep mata yang teksturnya lebih kental juga dapat membantu mempertahankan kelembapan lebih lama, meski penggunaannya lebih cocok menjelang tidur karena dapat membuat pandangan buram sementara.
Selain itu, kompres hangat pada mata yang terpejam selama beberapa menit dapat membantu merawat lapisan air mata. Gunakan kain yang hangat dan nyaman, bukan yang terlalu panas.
Saya pun merasakan mata mulai lelah setelah beberapa lama berada di Kebun Mawar. Angin yang berembus membuat mata terasa kurang nyaman, padahal saya masih ingin menikmati setiap sudut taman dan menghabiskan waktu bersama teman-teman.
Saya tentu tidak ingin rasa tidak nyaman itu mengganggu momen yang sudah lama kami nantikan. Apalagi, kami baru saja kembali berkumpul setelah bertahun-tahun tidak punya kesempatan menghabiskan waktu bersama seperti ini.
Untungnya, saya sudah membawa sahabat perjalanan di dalam tas. Si kecil yang memang saya siapkan untuk menemani hari itu: #InstoDryEyes.
Insto Dry Eyes: Teman Kecil yang Ada di Dalam Tas
Benda kecil memang sering kali baru terasa berarti ketika kita membutuhkannya. Begitu pula dengan Insto Dry Eyes. Saat kami berjalan menuju sebuah sudut beratap yang dilengkapi kolam ikan dan dikelilingi berbagai jenis bunga, saya sengaja memperlambat langkah. Tanpa diketahui kawan-kawan, saya meneteskan dua tetes Insto Dry Eyes ke mata. Setelah itu, saya kembali bergabung bersama mereka.
Ukurannya yang hanya 7,5 ml membuat Insto Dry Eyes cukup ringkas untuk dibawa ke mana-mana. Kemasan barunya juga terlihat lebih eye-catching dengan warna biru muda, sehingga mudah ditemukan ketika terselip di dalam tas.
INSTO DRY EYES mengandung beberapa keunggulan yang berkaitan dengan kondisi mata kering, di antaranya:
- Membantu mengatasi mata kering: Mata yang terlalu kering dapat memicu respons alami berupa keluarnya air mata secara berlebihan. Insto Dry Eyes membantu memberikan kelembapan pada mata.
- Mengandung Hydroxypropyl Methycellulose: HPMC berperan sebagai pelumas yang membantu menjaga permukaan mata tetap lembap.
- Membantu mempertahankan kelembapan mata: HPMC membentuk lapisan pada permukaan mata sehingga kelembapan dapat bertahan lebih lama.
- Membantu memberikan rasa nyaman: Kelembapan yang terjaga dapat membantu meredakan rasa kering, sepet, atau sensasi seperti ada yang mengganjal.
- Menemani aktivitas sehari-hari: Produk ini dapat menjadi pilihan bagi mereka yang sering menatap layar, terlalu lama berada di ruangan ber-AC, maupun pengguna lensa kontak yang mengalami mata kering.
Dosis dan aturan pakai:
- Gunakan 1–2 tetes pada masing-masing mata yang terasa kering.
- Aplikasikan saat mata terasa tidak nyaman atau sesuai kebutuhan, dengan mengikuti petunjuk pada kemasan.
- Setelah digunakan, tutup kembali botol dengan rapat untuk menjaga kebersihan dan mencegah kontaminasi.
Penutup
Perjalanan kami ke Kebun Mawar hari itu bukan hanya agenda refreshing menyusuri salah satu sudut Garut. Namun, juga meneruskan perjalanan yang sempat terjeda setelah anak-anak lulus TK.
Semua memang ada masanya, tetapi meski masa kebersamaan sebagai wali murid TK telah usai, kami tetap menyimpan asa untuk tetap terhubung. Tak sesering dulu, juga tak seintens dulu. Namun, kami sepakat menyisakan sedikit ruang untuk kembali bertemu di tengah rutinitas baru.
Dan, untuk menikmati setiap momen #BebasMataKering, saya tidak lupa membawa teman kecil yang siap menemani. Insto Dry Eyes membantu saya tetap nyaman menyusuri keindahan Kebun Mawar Situhapa Garut dan hangatnya kebersamaan bersama teman-teman lama, tanpa terganggu gejala mata kering.
Referensi:
- https://www.theeducatedpatient.com/view/from-winter-winds-to-screen-strain-how-to-fight-dry-eyes-year-round
- https://www.halodoc.com/artikel/insto-dry-eyes-untuk-apa-atasi-mata-kering-dan-iritasi
Wah indahnya Kebun Mawar ini. Cocok banget buat wisata keluarga atau dengan orang tercinta. Alhamdulillah Garut punya spot wisata seciamik ini. Tapi alamatnya mirip dengan Semarang, padahal Samarang, ya :)
BalasHapusBeruntung meet up di Kebun Mawar nya bawa Insto, ya. Jadinya pas kerasa ada gejala mata kering tinggal ditetesin aja, then acara ketemuannya jadi tak terganggu dengan mata yang sepet, perih bahkan lelah.
Aku awalnya mengira ini Semarang lho..eh rupanya Samarang hahaha. Emang cantik banget ini, cocok untuk liburan bareng keluarga ya.
HapusKadang pas lagi keasyikan menikmati pemandangan dan foto-foto di area terbuka, tiupan angin pegunungan malah bikin mata jadi sepet, perih, dan lelah (SePeLe). Memang gejala mata kering suka datang tanpa permisi dan bikin suasana quality time agak terganggu kalau diabaikan.
BalasHapusIya, Mas Arief. Sering kejadian banget kalau kegiatan outdoor mata jadi kurang fokus karena debu atau paparan sinar matahari. Cukup mengganggu ya kalau tidak segera diatasi, bisa-bisa kita ketinggalan momen berharga bersama orang-orang terdekat kita.
HapusBetter pakai kacamata yang proper ya, kalau kegiatan outdoor gitu. Tapi itupun memang kadang tak maksimal, kalau untuk paparan sinar matahari bisa lah, tapi kalau untuk ukuran debu yang super mini, kadang ada saja yang masuk ke mata dan membuatnya tak nyaman. Jadinya bawa Insto biar tambah mantap preventif nya, ya.
Tadi saya kira Srmarsng kak...ternyata Samarang. Ini juga salah satu ciri mata kering dsn lelah, lihat huruf sering keliru. Tetapi memang akhir2 ini cuaca nggak nyaman, panas dan berangin hingga berpengaruh pada mata. Karenanya sedia Insto Dry Eyes adalah solusi terbaik.
BalasHapusAku jadi ingat sebuah group yang kuikuti, kalau mau ngumpul tuh wacananya lamaa banget terealisasi. Akhirnya kami mengadakan jadwal ngumpul tiap bulan. Agar agenda nggak sekadar wacana haha... Btw, masya Allah cantik banget Kebun Mawar Situhapa Garut ini. Tiket masuknya juga terjangkau ya.
BalasHapusLohhh aku sampe baca beberapa kali, ternyata beneran samarang ya hehehe
BalasHapusKalau lagi ke tempat2 wisata gini tuh seringnya tiupan anginnya yang kadang bikin mata perih dan sering berair yaa. Alhamdulillah banget kemasan instonya mungil jadi gampang banget kalau di bawa kemana2 ya..
Kebun mawarnya bagus sekali ya mbak...Garut memang indah yaa. Dan menikmati keindahan kebun mawar tidak terganggu sama sekali meskipun ada gangguan di mata karena ada INSTO
BalasHapusSerunya reuni dengan sesama walimurid alumni sekolah TK hihi. Aku jarang ikut kumpul-kumpul kalo walimurid ada acara, jadi berasa nggak punya temen. Tapi aku emang lebih suka rebahan, gampang capek kalo ketemu orang banyak, wkwkwk repot ya.
BalasHapusBtw, siapa sangka ternyata kena angin di taman yang asri pun bisa bikin mata kering ya mbak. Untung ada Insto Dry Eyes, drama mata kering bisa dihindari. Pasti nggak nyaman banget kalo sampe momen reunian harus terganggu gara-gara kondisi mata lagi kering.
wkwkwk, planning dadakan justru lebih sering jadinya daripada hanya sekedar rencana dan rencana kan ya
BalasHapusbtw angin ini juga dapat membuat mata perih saya juga pernah mengalaminya, ga enak banget rasanya, jadi mengganggu kan ya
Kayaknya memang harus nyetok insto, nih. Samarang aku baca semarang sampe akhir tulisan. Khawatir banget kalau sempat punya kesempatan ke taman bunga malah nggak nyaman untuk berfoto.
BalasHapusMenikmati pemandangan bunga yang berwarna warni tentunya menyenangkan, apalagi bersama sahabat yang lama tak bersua
BalasHapusPilihan yang pas nih jalan ke taman bunga.
Btw si kecil insto menemani kemana saja kaki melangkah ya