Tunggu dulu, Aa nganterin anak-anak sekolah. Setelah itu baru kita jalan.
Saya mengiyakan. Suami dan anak-anak kemudian menghilang di belokan. Mengapa saya tidak langsung ikut? Suami mengantar si cikal dan si bungsu dengan sepeda motor, sementara kami berencana menjajal Eduwisata Gunung Guntur dengan berjalan kaki. Ya, benar-benar jalan kaki mulai dari langkah pertama meninggalkan rumah.
Rencana ini muncul setelah sebelumnya saya dan kawan-kawan menemukan keindahan di kaki Gunung Guntur yang tidak memerlukan pendakian. Saat itu kami sudah memasuki kawasan Eduwisata, tetapi di bagian bawahnya—tempat yang menyediakan beberapa gazebo.
Kami memang hanya menghabiskan waktu dengan mengobrol ini-itu, sembari menyantap cemilan dan gorengan. Namun, pemandangan di depan mata terasa istimewa dengan berdirinya batuan vulkanik besar yang menjulang.
Dari sana, kami berencana suatu hari nanti akan menjelajah Eduwisata lebih jauh lagi. Rencana itu tetap terealisasi. Bedanya pada kesempatan ini, saya kembali ke kawasan tersebut bersama suami.
Setelah suami mengantar anak-anak, kami pun segera memulai perjalanan menuju Eduwisata Gunung Guntur. Kami berjalan tanpa tergesa, berdua menyelaraskan rasa, demi memori yang terkadang meraja tanpa kata.
Berjalan Kaki Menuju Eduwisata Gunung Guntur
Jalan ini kerap digunakan menjadi jalan pintas. Pemotor dari arah Pataruman yang hendak ke daerah Tarogong sering menjadikannya jalan alternatif. Bahkan, driver ojeg online sudah banyak yang tahu jalur tersebut.
Kami terus berjalan hingga menemukan sebuah jembatan kecil. Di bawahnya mengalir sebuah sungai yang berdampingan dengan pesawahan. Sesekali, saya melihat beberapa ekor anjing di daerah sana, tetapi tampaknya tidak galak. Zaman sekarang sudah jarang sekali saya bisa menemukan hewan tersebut berkeliaran.
Selanjutnya kami menyusuri jalan kecil. Motor-motor masih dapat berlalu-lalang. Namun, kami harus super waspada dan fokus karena jalan itu diapit sawah dan selokan. Setiap ada motor lewat, kami menepi sejenak.
Keluar dari jalan kecil, kami berjalan sedikit lalu menyeberang ke arah Jati. Di sana terletak sebuah sekolah dasar. Banyak pedagang yang sedang dikerubungi anak SD. Kami mendekati gerobak penjual rujak dan membeli buah potong yang terdiri dari semangka, nanas, dan pepaya.
Setelah membayar, kami segera melanjutkan perjalanan menuju Alun-Alun Tarogong. Dari sana kami tetap berada di Jalan Otto Iskandar Dinata atau yang lebih dikenal sebagai Jalan Otista menuju kawasan kaki Gunung Guntur. Ini pertama kalinya kami memilih jalan raya, biasanya suami lebih sering mengajak mengambil jalan kampung.
Setelah berjalan cukup jauh, kami mampir sebentar di Alfamindi yang terletak di pertigaan daerah Pasawahan. Dari sana kami belok kiri hingga Hotel Harmoni terlihat. Di sepanjang jalan itu, semilir angin terasa seperti obat penenang dari teriknya matahari.
Sayangnya, raja kelana tampaknya tak lagi menyertai saat kami menyusuri Jalan Ibrahim Aji. Jalan terasa panas karena minim pepohonan. Tak ada tempat berteduh di jalan baru tersebut. Karenanya, kami seolah tidak diberi pilihan selain terus melanjutkan perjalanan. Menurut saya, memakai kacamata di area itu merupakan keharusan.
Untuk sedikit mengesampingkan rasa tidak nyaman dari terik matahari, saya mencoba menarik tuas menuju masa lalu. Saya dan suami berbagi kesan tentang bagaimana kami melihat kawasan itu pada zaman masih bersekolah.
Dulu saat ada kegiatan penjelajahan, perjalanan menuju kaki Gunung Guntur terasa seperti benar-benar menuju gunung. Sementara sekarang kawasan sudah banyak berubah: mulai dari rumah penduduk, jalan raya besar, hingga Kopdes.
Mampir ke Kawasan Kaki Gunung Guntur
Kami memasuki gapura dengan lebih bersemangat. Saya mengajak suami untuk berbelok. Kemudian kami mampir di area yang pernah saya datangi bersama kawan-kawan. Pemandangan bebatuan vulkanik yang menjulangnya tetap sama, tetapi suasananya jelas berbeda.
Hari itu bukan akhir pekan, sehingga tempat tersebut lebih sepi dibanding kali terakhir saya kunjungi. Warung tetap buka, tetapi tidak menyediakan gorengan seperti ketika datang bersama kawan-kawan. Namun jangan khawatir, aneka camilan, kelapa muda, dan kopi tetap bisa kita temukan.
Saya dan suami memilih duduk di bangku panjang tepat di depan warung. Gazebo terasa terlalu luas jika hanya untuk kami berdua. Dari rumah saya belum sarapan, jadi saya tergoda untuk memesan mi instan cup. Sementara suami merasa cukup dengan segelas kopi panas.
Sembari menikmati makanan dan minuman, kami bercakap tentang keindahan pemandangan sekitar. Tidak jauh dari sana berdiri sebuah masjid. Selain untuk beribadah, keberadaannya sangat memudahkan bagi pengunjung yang perlu ke kamar kecil.
Agak sedikit jauh lagi ada sebuah jalan yang entah mengarah ke mana. Saya sempat melihat gepokan kertas yang tampak seperti tiket. Mungkin itu adalah salah satu jalur pendakian menuju puncak Gunung Guntur. Sayang sekali, saat itu saya tidak sempat bertanya pada orang yang memegang tiket tersebut.
Melewati Portal Menuju Kawasan Eduwisata
Kami berjalan dalam tempo yang tidak tergesa. Bahkan sesekali kami berhenti untuk lebih menyatu dengan alam. Di pinggir jalan kami menjumpai air bersih yang turun dari ketinggian. Bukan berupa sungai, tetapi cukup untuk menciptakan sensasi menyegarkan di tengah teriknya mentari.
Di sepanjang jalan itu, kami tidak banyak bertemu orang—rasanya hanya satu kali berpapasan dengan sebuah mobil. Kami terus melanjutkan perjalanan dengan tetap berjalan kaki. Makin lama, langkah makin terasa berat, seiring medan yang terus menanjak.
Setelah beberapa saat, sayup-sayup mulai terdengar keriuhan. Bunyi-bunyian itu berasal dari pengeras suara. Tampaknya suatu acara tengah berlangsung di atas sana. Keramaian yang mulanya hanya tertangkap indra pendengaran mulai mewujud di depan indra penglihatan. Mobil-mobil berjajar di sepanjang jalan yang dihiasi sejumlah banner.
Untuk mencapai ke sana, kami harus melewati sebuah portal. Kepada penjaga loket, kami bertanya soal biaya masuk. Ternyata para pejalan kaki tidak dikenakan biaya. Hanya mereka yang membawa kendaraan sajalah yang diharuskan membayar tiket alias bayar parkir.
Dari penjaga loket jugalah, kami mengetahui bahwa hari itu sedang berlangsung wiracamp—yang merupakan bagian dari Wirahebat. Wirahebat sendiri merupakan kompetisi antar wirausaha Garut yang diinisiasi oleh pemerintah daerah. Selain acara itu, masih ada satu lagi acara gathering dari sebuah komunitas.
Melewati Kafe dan Penginapan hingga Loket Curug
Selanjutnya, kami tiba di sebuah kafe yang berada di dekat penginapan berbentuk tenda. Bangunan-bangunan tenda tersebut berjajar rapi dengan jarak yang relatif sama. Model penginapan seperti ini dikenal sebagai glamping atau glamorous camping. Wah, jadi pengen, deh, suatu hari nanti menginap di sana bersama anak-anak.
Kami terus mendaki. Di depan kafe bernuansa semi outdoor itu, saya menyempatkan menengok ke belakang—ke arah kedatangan. Saya membayangkan betapa indahnya pemandangan di sana saat malam tiba, citylight Garut dari ketinggian.
Jalanan selanjutnya terasa lebih sempit dan menanjak. Di sebelah kanan tampak semacam kandang-kandang dari bambu. Kata suami itu sepertinya rumah lebah. Tentu hal itulah yang menjadi alasan tempat tersebut bernama Eduwisata Perlebahan. Namun, saya belum mempelajari lebih jauh maksudnya apa dan bagaimana.
Sementara itu, di sebelah kiri terdapat loket menuju curug. Loket tersebut dijaga oleh seorang perempuan. Saya sempat bertanya jam berapa loket ditutup, ia menjawab pukul lima. Setelah membayar biaya masuk Rp5.000 per orang, saya lebih bersemangat karena mengira akan segera sampai di Curug Citiis.
Curug Citiis Masih Menanti di Ketinggian
Saya berbincang dengan suami. Kami menebak apa yang terjadi sampai curugnya jadi kecil seperti itu. Mungkin sempat longsor, pikir kami, jadi bentuk curugnya berubah. Belakangan, saya baru sadar itu bukan Curug Citiis.
Ada seorang teman yang memberi pencerahan, katanya itu Curug Ceret. Curug artinya air terjun, sementara ceret berarti percik. Namanya ini jelas menggambarkan ukuran air terjun yang kecil.
Sementara Curug Citiis, curug yang lebih besar dan lebih dari satu, masih berada lebih jauh dan harus melewati hutan. Kalau memang berencana ke sana, sebaiknya tidak berjalan kaki dari rumah. Kita bisa menggunakan kendaraan hingga area kafe. Dari sana baru berjalan kaki menuju Curug Citiis atau bahkan summit Gunung Guntur.
Akan tetapi untuk sekarang, kami cukup puas dengan pencapaian jalan kaki dari rumah sampai Curug Ceret. Selain kondisi badan yang sudah lelah, kami pun harus menjemput si bungsu sekitar dua jam kemudian.
Kami menghabiskan waktu agak lama di sana. Suasana cukup ramai oleh para pengunjung yang beristirahat di gazebo, jajan di warung, berenang di kolam renang, dan berfoto di sekitar curug. Kami mengambil gambar secara bergantian. Meski tidak terlalu besar, curug tersebut tetap menjadi spot favorit.
Sepiring Nasi Padang Sebelum Pulang
Kami menyusuri setiap jejak langkah yang tadi ditinggalkan. Namun, begitu melewati gerbang besar Eduwisata, kami mengambil jalur yang berbeda. Jika kembali menapaki jalan kedatangan, arah yang diambil adalah ke kanan—kembali ke Hotel Harmoni.
Akan tetapi, kami lebih memilih belok kiri demi pengalaman yang berbeda. Kami meneruskan jalan kaki di Jalan Ibrahim Aji, lalu menyeberang ke arah kanan. Di sana kami hanya menemui kebun penduduk, sejauh mata memandang belum terlihat pemukiman.
Saya sempat mengeluh kelelahan, lalu suami menawarkan untuk menggendong. Karena tidak ada orang, saya mengiyakan tawaran itu. Namun, ketika akan melewati pemukiman, saya memilih kembali berjalan kaki.
Saat itu saya mempercayakan pada suami mau ambil jalan mana pun. Saya memang lemah untuk mengingat dan menebak arah. Saya sempat khawatir karena tidak kunjung sampai di jalan besar, tetapi sekitar satu jam kemudian akhirnya keramaian kendaraan mulai terlihat.
Kami keluar dari sebuah gapura di daerah jalan raya Tanjung. Jalan kaki selama lima jam tentu membuat tubuh letih, perut pun sudah meronta-ronta minta diisi. Jika sedang berada pada level kelaparan akut, saya cenderung tertarik pada nasi padang. Sudah terbayang pasti enak dan bikin kenyang.
Kami pun menyeberang dan masuk ke sebuah rumah makan Padang. Tanpa ba-bi-bu, saya langsung memesan rendang dan es jeruk. Selepas makan, kami menuju sekolah anak-anak dengan menumpang angkutan umum jurusan Leles dan berhenti di Simpang Lima. Kami berhasil tiba di sana beberapa saat sebelum anak-anak bubar. Alhamdulillah tepat waktu.
Penutup
Perjalanan ke Eduwisata Gunung Guntur ternyata bukan hanya tentang sampai di suatu tempat. Ada pengalaman, perubahan kawasan yang terlihat sepanjang jalan, dan rencana baru yang muncul setelahnya.
Di titik ini, akhir sebuah perjalanan bisa menjadi momen lahirnya sebuah wacana baru. Seperti halnya wacana ke Eduwisata yang muncul setelah menemukan keindahan kaki Gunung Guntur. Setelah ke Eduwisata pun wacana lain segera menyusul—kembali ke Gunung Guntur dengan mendaki lebih tinggi.
Tentu banyak hal yang perlu dipersiapkan, baik fisik, mental, maupun waktu. Namun, setidaknya pengalaman jalan kaki ke Eduwisata Gunung Guntur ini bisa menjadi batu pijakan untuk berani mengambil langkah lebih jauh. Baraya, sudah pernah ke Cirug Citiis? Berbagi di sini, yuk, agar saya lebih semangat merealisasikan wacaca tersebut.






Posting Komentar
Posting Komentar