halogarutweb.blogspot.com

Nonton Dilan ITB 1997 di Bioskop Garut: Ketika Layar Lebar Tak Lagi Terasa Jauh

4 komentar

Nonton Dilan ITB 1997 di Bioskop Garut: Ketika Layar Lebar Tak Lagi Terasa Jauh
Saya setuju 1.000.000% Ariel yang memerankan Dilan.

Sejak Pidi Baiq membuat pernyataan mengejutkan tersebut pada November 2025, saya sudah mantap akan nonton Dilan ITB 1997 di Bioskop Garut. Padahal saat itu proses syuting sama sekali belum dimulai, tetapi saya sudah bersemangat.

Sebagai generasi milenial, saya dan sahabat-sahabat zaman sekolah dulu begitu akrab dengan lagu-lagu Peterpan maupun Noah. Kami menyaksikan perjalanan karier mereka dari pertama muncul hingga kini sang vokalis menjajal dunia peran.

Ini memang bukan yang pertama. Namun, kemunculan Ariel dalam film sebelumnya— Sang Pemimpi—hanya sebentar. Itu pun di akhir cerita saat Arai sudah dewasa. Karenanya, saya tidak ingin melewatkan kesempatan melihatnya di layar sebagai pemeran utama.

Di Garut kini ada beberapa bioskop dan saya memilih XXI yang terletak di Ciplaz karena relatif lebih dekat. Rasanya senang sekali bisa menonton film baru di kota sendiri. Zaman masih single dulu, kalau mau nonton film baru, saya setidaknya harus pergi ke Jatinangor Town Square (Jatos).

Ketika Film Baru Belum Mudah Ditonton

Jadwal tayang bioskop Garut
Sebenarnya di Garut sudah sejak lama ada bioskop. Namun, kala itu tempatnya sederhana dan pilihan filmnya terbatas. Saya sempat beberapa kali nonton di sana saat masih kuliah. Tempatnya tidak jauh dari Toko Buku AA.

Akan tetapi, ada masanya saya ingin menyambangi jaringan bioskop modern. Karenanya, saya memaksakan diri berangkat dari Garut ke Jatinangor. Kalau tidak salah ingat saya nonton di sana dua kali. Pertama janjian dengan teman asal Bandung, yang kedua berasal dari Limbangan.

Waktu itu saya masih muda, jadi tidak terlalu terganggu dengan jarak yang jauh. Ditambah belum berumah tangga pula, jadi masih bebas ke sana-kemari sendiri. Justru saya senang bisa janjian dengan teman yang sudah jarang bertemu.

Akan tetapi, tetap saja untuk menonton film ke luar kota saya butuh persiapan. Dari mulai mencari waktu yang sesuai dengan jadwal kosong beberapa teman, sampai menyediakan anggaran yang meliputi ongkos, tiket bioskop, makan, dan jajan. Untungnya, saya sudah bekerja, jadi bisa mengusahakannya sendiri. 

Akhirnya Menonton Dilan di Kota Sendiri

Garut terus berbenah, banyak hal yang berubah. Sekarang kota ini jauh lebih maju dan modern dengan makin maraknya tempat makan dan hiburan. Begitu pun jika ingin menonton film baru, baraya Garut tidak perlu jauh-jauh lagi ke Bandung.

Pada 2018, XXI pertama hadir di Ciplaz, selang enam tahun kemudian mereka membuka cabang lagi di Citimall. Sayangnya, jaringan bioskop modern ini ada ketika saya sudah berkeluarga dan memiliki dua anak yang belum bisa ditinggal lama.

Saat baraya Garut menyambut meriah dan larut dalam kegembiraan. Saya hanya melihat dari jauh dan berharap suatu saat bisa ikut menikmati fasilitas yang sekian lama dirindukan hadir di sini.

Kesempatan itu datang pada awal 2024 saat kedua anak saya sudah sekolah. Seiring bertambahnya usia anak, ritme kehidupan pun melambat. Saya mulai merasakan kelonggaran, sehingga bisa mencuri waktu untuk pergi ke bioskop sebentar.

Kala itu saya nonton Ancika 1995. Kebetulan, film berikutnya yang saya tonton di 2026 ini adalah Dilan ITB 1997. Jadi, pengalaman saya nonton di bioskop Garut masih berkutat di Dilan Universe. 

Pengalaman Nonton Dilan ITB 1997 di Garut

Apakah di Ciplaz Garut ada bioskop?

Kalau saja bioskop memiliki jadwal tayang di pagi hari, jelas saya akan memilihnya. Pagi hingga siang hari saat anak berada di sekolah merupakan waktu luang, jadi rentang waktu itu banyak dimanfaatkan para ibu untuk me time.

Kenyataannya, jadwal bioskop paling awal tayang pukul 12.40. Dengan mantap, saya memilih waktu itu agar pulangnya tidak terlalu sore dan tidak mengganggu waktu salat. Dari pertama janjian, Jumat sudah dipilih sebagai cinema day karena hari itulah anak-anak pulang lebih awal, jadi saya bisa nonton setelah kewajiban menjemput selesai.

Saya tiba di Ciplaz pukul 12.30, lalu langsung masuk lewat lobi Ramayana—bukan lobi geulis. Setelah melewati deretan pakaian, saya naik eskalator dan tempat nonton pun terlihat. Menjadi orang yang pertama datang, saya menunggu sahabat-sahabat beberapa saat.

Bioskop tidak terlalu ramai, tidak ada antrean di bagian kasir. Segera kami memilih kursi barisan belakang agar lebih nyaman. Sebenarnya masih ada sahabat-sahabat yang belum sampai, tetapi kami memutuskan untuk menunggu di dalam setelah sebelumnya membelikan mereka tiket.

Di pintu studio saat memberikan tiket yang kemudian dirobek, kami menginformasikan pada petugas perihal keterlambatan itu. Sehingga sahabat yang menyusul nantinya bisa langsung masuk tanpa perlu memanggil kami yang sedang menonton.

Udara dingin dan suara menggelegar seolah menjadi penanda bahwa kami telah berada di ruang pelarian untuk sesaat. Lari dari rutinitas, lari dari realitas. Kami pun segera menuju tempat duduk sesuai dengan nomor yang tertera pada robekan tiket.

Senang rasanya kemewahan yang dulu harus dikejar ke luar kota, kini bisa didapatkan tidak jauh dari rumah. Meski harus menunggu lama dan saat telah ada pun tidak bisa langsung disambangi—ini tetap patut dirayakan.

Kala itu studio 1 tidak terlalu padat. Mungkin mereka yang menonton tidak jauh berbeda dengan saya, baik secara usia maupun tujuan, yang ingin menikmati terus kisah Dilan—atau bisa juga karena ingin melihat Ariel bermain peran.

Dilan yang Kini Telah Dewasa

Saat saya duduk di kursi bioskop yang nyaman itu, film belum dimulai. Layar sedang menayangkan cuplikan film Falcon lainnya, yakni Warkop DKI versi Desta, Vino, dan Tora. 

Sesaat kemudian, kisah Dilan yang kini telah dewasa bergulir selama 1 jam 50 menit. Meski tidak ada gebrakan, saya sama sekali tidak merasa bosan. Cerita yang secara garis besar sudah disuguhkan dalam film Ancika 1995 hadir dalam sudut pandang baru.

Kurang lebih enam tahun setelah masa SMA yang bisa dibilang penuh huru-hara, Dilan yang telah di masa akhir kuliahnya hadir membawa ketenangan. Tidak ada lagi pemuda yang gampang emosi itu, kini dia lebih bijak dalam bersikap.

Tidak hanya dari sisi Dilan, Ancika pun memperlihatkan kedewasaan yang setara. Hubungan mereka terlihat stabil, meski sesekali rintangan tetap hadir. Komunikasi terjalin baik, sehingga kesalahpahaman tidak berlarut-larut.

Pada awalnya, saya menyayangkan kandasnya hubungan Dilan dan Milea. Namun, makin dalam masuk dalam alur cerita, saya makin mengerti bahwa Ancika memang sosok yang tepat untuk Dilan.

Saat itu, saya memperhatikan penonton lain. Tidak ada kaula muda di sana. Hampir semua tampaknya seumuran dengan saya, bahkan ada pasangan senior. Barangkali, proses pendewasaan yang Dilan lalui memang lebih menarik bagi kami yang juga telah melewati proses yang sama.

Dari Bioskop ke Meja Makan

Ulasan Mawmie Garut

Saya bertahan di studio hingga title credit hampir berakhir. Sebenarnya saya masih ingin di sana hingga suara merdu Ariel tidak terdengar lagi. Namun, saya melihat beberapa staf menunggu semua penonton keluar untuk kemudian mempersiapkan studio untuk jadwal berikutnya.

Saat saya dan para sahabat melangkah ke luar, lagu Ancika masih mengalun. Makin jauh melangkah, suara Ariel makin hilang ditelan jarak. Baru juga selesai menonton, saya sudah tidak sabar ingin menonton kelanjutannya: Dilan Amsterdam.

Kami baru mengetahui ternyata hujan turun saat sudah di pelataran lobi Ramayana. Langit kelabu, sangat kontras dengan langit saat kami memasuki bioskop. Padahal hanya berjarak dua jam.

Sempat menunggu sebentar hingga hujan mereda, kami memutuskan menyebrang ke IBC, lalu menuju Mawmie Garut. Semangkuk ramen pedas berkuah rasanya pas untuk menggenapi momen nonton dan hujan.

Saya memesan ramen ditambah pangsit ayam goreng dan es teh manis. Di Mawmie sistem pemesanannya melalui barcode yang tertera di setiap meja, jadi tidak perlu mengantre ke meja kasir. Harganya cukup terjangkau. Untuk tiga item itu, saya membayar kurang lebih Rp35.000—harga yang sama dengan tiket nonton tadi. 

Sambil menunggu pesanan, kami melipir ke bagian belakang untuk berfoto. Setiap resi pembelian, pelanggan mendapat satu voucher gratis photobox. Tentu saja kami senang mendapat kesempatan enam kali jepretan, meski hanya mendapatkan soft file-nya. 

Hati senang, perut kenyang. Pertemuan singkat itu cukup menambah energi untuk menghadapi hari-hari selanjutnya. Kalau baraya biasanya memilih kegiatan apa dengan para bestie?

Penutup

Dulu, menonton film baru sering kali berarti menyusun rencana. Ada jadwal yang harus dicocokkan, ongkos yang perlu disiapkan, dan perjalanan yang mesti ditempuh. Kini, layar lebar itu hadir di kota sendiri. Jarak yang dahulu terasa panjang perlahan berubah menjadi pendek, seolah waktu ikut membantu mendekatkan yang pernah terasa renggang.

Mungkin karena itulah pengalaman menonton Dilan ITB 1997 terasa lebih berkesan. Bukan semata-mata karena filmnya, melainkan karena saya dapat menikmatinya bersama sahabat tanpa perlu pergi terlalu jauh. Setelah sekian lama sibuk dengan urusan masing-masing, kami masih bisa duduk berdampingan, tertawa bersama, lalu melanjutkan cerita di meja makan.

Pada akhirnya, yang paling saya ingat bukan hanya adegan di layar atau lagu yang mengalun di penghujung film. Saya justru mengingat langkah-langkah kecil menuju bioskop, hujan yang turun sepulang menonton, dan semangkuk ramen hangat yang menemani obrolan sore. Barangkali, kebahagiaan memang tidak selalu datang dalam peristiwa yang gemilang. Kadang, ia hadir dalam momen yang sederhana, lalu menetap lebih lama dari yang kita kira.

Related Posts

4 komentar

  1. Wah, beruntung sekali di Garut sudah ada bioskop! Di kampung halaman saya, bioskop sudah ada, tapi tidak begitu populer. Mungkin karena pilihan filmnya masih terbatas ya. Lebih senang pergi ke kota besar sekalian untuk nonton film meskipun lebih jauh.

    BalasHapus
  2. Aku pengen nonton dilan yg dewasa ini tp blm ada kesempatan. Seru ngga mba? Yg main ariel jd penasaran.

    BalasHapus
  3. MEnyenangkan sekali ya bisa nonton bersama sahabat, kadang bukan kemana kita pergi tapi bersama siapa kita pergi dan menikmati perjalanan itu termasuk menikmati semangkuk ramen hangat saat hujan bersama sahaba setelah sebelumnya menonton film bersama
    ah menyenangkan sekaii

    BalasHapus
  4. Ahhh aku belum kesampaian nonton Dilan ITB 1997 ini. Udah ku aturan jadwal buat nonton tapi belum bisa juga. Aku pengen banget lihat actingnya Ariel yang kharismatik itu.

    BalasHapus

Posting Komentar

```html